Tampilkan postingan dengan label Seni Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni Budaya. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Desember 2011

Perkembangan Seni Lukis

0

Berbicara tentang seni, ada banyak sekali macam seni yang kita temui sampai saat ini, dan salah satunya yang cukup disegani adalah lukisan. Seni lukis sudah banyak diketahui dan ditekuni dalam sepanjang perjalanan kehidupan manusia. Dari masa ke masa peralatan yang digunakan dalam seni melukis pun bervariasi. Dahulu kita pernah menemukan lukisan dengan minyak sebagai pengikat material-material pigmen zat warna yang disapukan ke kanvas, ada juga cat air dimana menggunakan media air sebagai pembawa zat warnanya. Selain itu ada juga lukisan encaustic yang menggunakan wax atau lilin.
Berkembangnya teknologi juga berimbas pada berkembangnya seni lukis. Tahap demi tahap, dalam dunia seni lukis moderen dikenalah jenis-jenis warna baru yang menggunakan teknologi kimia. Namun agaknya perubahan-perubahan tersebut seakan membatasi para seniman lukis dalam berkarya di era lampau. Sebagai contoh, warna-warna yang tersedia pada era Warhol tidak tersedia di era Monet. Warna-warna yang digunakan Van Gogh tidak ada pada Michelangelo, dan seterusnya.
Kini, kita mengenal medan baru seni lukis yang berbeda dari seni lukis pada era para pendahulu kita yaitu Digital Painting. Kita lebih mengenal pixel daripada pigmen warna, kanvas kita berupa monitor, palette dideskripsikan sebagai RGB (Red, Green, Blue), CMYK (Cyan, Magenta, Yellow, Black), dan sebagainya. Setelah lukisan kita jadi, maka akan kita cetak dan menjadi pigmen warna lagi pada kertas atau dokumen cetak kita.

Charcoal Drawings
Seni charcoal sudah ada sejak jaman manusia menggunakan ranting pohon yang dibakar untuk menggambar pada dinding-dinding gua. Alat tersebut memang alat yang pas untuk membuat gambar atau tanda yang jelas dan tajam. Beberapa charcoal terbuat dari kayu keras yang dibakar. Jenis lainnya ada yang terbuat dari ranting-ranting pohon seperti willow. Bambu juga merupakan alternatif lain yang banyak digunakan dalam seni tradisional Sumi-e yang berasal dari Jepang. Yang lebih moderen lagi menggunakan material gum dan dibentuk menjadi beberapa derajat kekerasan yang bervariasi. Kini, para seniman terus mengikuti tradisi tersebut dengan menggunakan charcoal yang sesungguhnya, charcoal yang dikompres ke pensil, serta variasi Pensil konte dan kapur.
Dahulu Michelangelo dan Leonardo Da Vinci merupakan master seniman yang menggeluti charcoal ini.


Namun kita saat ini juga dapat mengikuti kemahiran seni lukis mereka menggunakan Photoshop, dimana charcoal kita berupa pixel. Bila kita berpikir tentang charcoal, tentu kita berpikir tentang foto yang hitam-putih. Dengan Photoshop, tentu saja kita dengan sangat mudah membuat foto berwarna menjadi hitam-putih menggunakan desaturate.

Pastel Drawings
Pastel merupakan media seni lukis menakjubkan yang menghasilkan warna yang hidup. Seni lukis ini sangat portable dan dapat menghasilkan lukisan kompleks dari sebuah sketsa dengan cepat. Tidak memerlukan media pelarut berupa air atau minyak, jadi merupakan seni lukis dengan media kering.
Pastel adalah seni lukis yang cukup mudah. Jika kita berpikir tentang pastel, mungkin kita teringat lukisan “Ballet Dancer” karya Degas.
Apakah kita tahu bahwa sebenarnya Degas juga seorang fotografer ? Atau mungkin juga kita teringat akan lukisan Toulouse-Lautrec. Hmm.. jika kita lihat, banyak sekali para seniman yang menggeluti seni lukis ini, karena pastel memang tergolong seni lukis yang mudah.
Pastel terbuat dari gabungan beberapa pigmen warna, dan banyak sekali pilihan warna yang tersedia. Kualitasnya juga bervariasi, mulai dari pastel ekonomis yang banyak dipakai anak-anak sekolah, sampai pastel yang sangat mahal yang memang banyak digunakan para seniman terkenal. Namun diantaranya ada juga pastel-pastel dengan kualitas sedang yang banyak digunakan para seniman jalanan untuk membuat karya-karya kecil mereka.
Pastel digunakan pada kertas atau kanvas bertekstur yang biasa juga disebut “Tooth”, dan banyak menggunakan kanvas yang berwarna, bukan putih. Beberapa seniman ada juga yang menggunakan kertas khusus yang pada permukaannya terdapat pasir. Hal ini memudahkan kita saat ini untuk dapat membuat lukisan pastel menggunakan komputer kita. Tekstur merupakan kuncinya agar kita mendapat hasil yang sama dengan lukisan pastel. Dan untungnya, Photoshop merupakan software yang banyak berisi peralatan untuk hal yang demikian, jadi memudahkan kita sebagai seniman digital.
Watercolor Paintings
Sesuai dengan namanya, cat air merupakan seni lukis yang menggunakan media air sebagai pembawa pigmen-pigmen warna menghasilkan lukisan semitransparan dan terlihat segar. Lukisan cat air dapat memakan waktu yang cepat ataupun lama, dan hasilnya pun bervariasi tergantung teknik dan kemampuan masing-masing.
Cat air ini banyak jenisnya. Biasanya sebelum dicampur dengan air, pigmen-pigmen warna berupa cake kering atau semipadat yang terdapat dalam tabung-tabung. Biasanya juga ditambah bahan pengikat seperti Gom Arab dan gliserin.
Tipe lain dari cat air adalah Gouache. Gouache terlihat lebih mengkilap karena ditambah zat opacifier atau opaquing agent, seperti kapur atau Zink Oksida (ZnO).
Ada yang lebih mengkilap lagi dari Gouache, yaitu Tempera. Pigmen-pigmen warna dalam tempera dicampur dengan putih telur sebagai pengikatnya. Contoh seniman yang menggunakan tempera yaitu Andrew Wyeth, yang merupakan master lukisan tempera di jamannya.
Salah satu teknik cat air yang cukup populer adalah “Wet on Wet”. Dalam hal ini, kertas atau kanvas dilumuri dahulu dengan air menggunakan kuas yang lebar dan rata, kemudian air dibiarkan teradsorpsi dan menguap sendiri. Setelah itu dimulailah melukis dengan cat air, jadi melukis dengan cat air di atas media air pula.  Dengan teknik ini, pigmen warna secara cepar menyebar ke permukaan basah dari kanvas. Teknik ini biasa digunakan untuk melukis langit pada lukisan landscape.
Teknik yang berkebalikan dengan Wet on wet adalah Dry Brush. Dalam hal ini cat di colekkan dengan kuas pada media absorbent atau kain, dan meninggalkan warna yang sangat sedikit pada kuas. Pigmen warna yang tebal tersebut banyak digunakan pada media kering, biasanya untuk melukis rambut, daun-daunan, dan lain-lain.
Dengan Photoshop kita juga dapat membuat lukisan cat air. Photoshop memang merupakan software utama yang dapat digunakan dalam hal ini. Mungkin kalian berpikir dengan photoshop kita dapat membuat lukisan secara instan hanya menggunakan “Watercolor Filter”. Tapi tidak demikian, bila membuat lukisan dengan Photoshop, berarti kita harus bergelimang dengan brush, berikut opacity dan flow-nya. Ada banyak macam brush yang ada pada Photoshop, namun kita tidak akan membahasnya disini.
Oil Paintings
Lukisan ini menggunakan pigmen warna yang dicampur dengan minyak. Minyak tersebut dapat diperoleh dari biji-bijian, seperti linseed oil atau minyak biji pohon rami, dan kadang juga dimasak dengan damar. Variasi medianya sangat luas dan ada juga yang ditambah wax atau lilin. Hasil akhir cat minyak dapat berupa lukisan yang mengkilap atau redup tergantung media yang digunakan. Cat minyak dapat diaplikasikan pada kanvas atau kayu yang memang digunakan sebagai kanvas. Dalam prosesnya, lukisan cat minyak juga dibungkus dengan bahan-bahan tertentu untuk melindungi permukaannya. Saat ini Gesso yang banyak digunakan untuk keperluan tersebut, namun dahulu banyak juga variasi bahan-bahan yang digunakan, antara lain dengan lem dari kulit kelinci. Pembungkusan ini dapat memperpanjang waktu hidup dari lukisan cat minyak. Oleh karena itu, bila mampir ke museum-museum, cat minyak akan lebih banyak kita lihat daripada cat air atau pastel. Karena memang cat minyak yang dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama karena ada proses sealing atau pembungkusan tadi.
Terdapat jenis lukisan cat minyak yang komposisi warnanya sangat tebal. Tebalnya ini dikarenakan warna-warna yang disapukan menggunakan kuas ke permukaan kanvas sangat banyak, jadi pada kanvas akan terdapat bekas-bekas kuas yang tebal. Lukisan jenis ini membutuhkan waktu yang sangat lama untuk benar-benar kering (biasanya hampir 1 tahun). Jenis seni lukis cat minyak ini namanya Impasto, dan Van Gogh adalah master di bidang ini.
Dalam versi digital kita, lukisan cat minyak impasto dapat kita buat dengan menggunakan lapisan atau tumpukan warna-warna. Tekstur-tekstur yang tebal pada kanvas dapat kita tiru menggunakan variasi stroke brush. Digital Oil Painting ini nantinya merupakan contoh yang bagus untuk pencetakan menggunakan inkjet printer.
Itulah sekilas tentang sejarah seni lukis yang ada pada masa lampau dan sedikit perbandingannya dengan seni digital painting kita saat ini (walaupun tidak bisa disebutkan semua jenisnya disini). Bahkan sekarang sudah ada teknologi Wacom dimana kita dapat melukis dengan pena yang langsung terintegrasi ke komputer.
Jenis Wacom pun juga bervariasi mulai dari yang ekonomis hingga yang sangat mahal dimana kita dapat langsung melukis pada monitor seperti gambar diatas.
Begitulah seakan tidak ada hentinya, seni lukis terus berkembang dari jaman ke jaman hingga saat ini. Dan kita tidak tahu apalagi yang akan terjadi dalam dunia seni lukis di abad ini..Oleh karena itu persiapkan diri kita sebaik-baiknya.

Sejarah Seni Lukis

0

Seni lukis adalah salah satu induk dari seni rupa. Dengan dasar pengertian yang sama, seni lukis adalah sebuah pengembangan yang lebih utuh dari drawing. Sejarah Seni Lukis akan kami coba ulas dalam beberapa tulisan, sebagai berikut :

Zaman prasejarah
Secara historis, seni lukis sangat terkait dengan gambar. Peninggalan-peninggalan prasejarah memperlihatkan bahwa sejak ribuan tahun yang lalu, nenek moyang manusia telah mulai membuat gambar pada dinding-dinding gua untuk mencitrakan bagian-bagian penting dari kehidupan mereka.

Semua kebudayaan di dunia mengenal seni lukis. Ini disebabkan karena lukisan atau gambar sangat mudah dibuat. Sebuah lukisan atau gambar bisa dibuat hanya dengan menggunakan materi yang sederhana seperti arang, kapur, atau bahan lainnya. Salah satu teknik terkenal gambar prasejarah yang dilakukan orang-orang gua adalah dengan menempelkan tangan di dinding gua, lalu menyemburnya dengan kunyahan daun-daunan atau batu mineral berwarna.

Hasilnya adalah jiplakan tangan berwana-warni di dinding-dinding gua yang masih bisa dilihat hingga saat ini. Kemudahan ini memungkinkan gambar (dan selanjutnya lukisan) untuk berkembang lebih cepat daripada cabang seni rupa lain seperti seni patung dan seni keramik.

Seperti gambar, lukisan kebanyakan dibuat di atas bidang datar seperti dinding, lantai, kertas, atau kanvas. Dalam pendidikan seni rupa modern di Indonesia, sifat ini disebut juga dengan dwi-matra (dua dimensi, dimensi datar). Seiring dengan perkembangan peradaban, nenek moyang manusia semakin mahir membuat bentuk dan menyusunnya dalam gambar, maka secara otomatis karya-karya mereka mulai membentuk semacam komposisi rupa dan narasi (kisah/cerita) dalam karya-karyanya.

Objek yang sering muncul dalam karya-karya purbakala adalah manusia, binatang, dan obyek-obyek alam lain seperti pohon, bukit, gunung, sungai, dan laut. Bentuk dari obyek yang digambar tidak selalu serupa dengan aslinya. Ini disebut citra dan itu sangat dipengaruhi oleh pemahaman si pelukis terhadap obyeknya. Misalnya, gambar seekor banteng dibuat dengan proporsi tanduk yang luar biasa besar dibandingkan dengan ukuran tanduk asli. Pencitraan ini dipengaruhi oleh pemahaman si pelukis yang menganggap tanduk adalah bagian paling mengesankan dari seekor banteng. Karena itu, citra mengenai satu macam obyek menjadi berbeda-beda tergantung dari pemahaman budaya masyarakat di daerahnya. Pencitraan ini menjadi sangat penting karena juga dipengaruhi oleh imajinasi. Dalam perkembangan seni lukis, imajinasi memegang peranan penting hingga kini.

Pada mulanya, perkembangan seni lukis sangat terkait dengan perkembangan peradaban manusia. Sistem bahasa, cara bertahan hidup (memulung, berburu dan memasang perangkap, bercocok-tanam), dan kepercayaan (sebagai cikal bakal agama) adalah hal-hal yang mempengaruhi perkembangan seni lukis. Pengaruh ini terlihat dalam jenis obyek, pencitraan dan narasi di dalamnya. Pada masa-masa ini, seni lukis memiliki kegunaan khusus, misalnya sebagai media pencatat (dalam bentuk rupa) untuk diulangkisahkan. Saat-saat senggang pada masa prasejarah salah satunya diisi dengan menggambar dan melukis. Cara komunikasi dengan menggunakan gambar pada akhirnya merangsang pembentukan sistem tulisan karena huruf sebenarnya berasal dari simbol-simbol gambar yang kemudian disederhanakan dan dibakukan.

Pada satu titik, ada orang-orang tertentu dalam satu kelompok masyarakat prasejarah yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk menggambar daripada mencari makanan. Mereka mulai mahir membuat gambar dan mulai menemukan bahwa bentuk dan susunan rupa tertentu, bila diatur sedemikian rupa, akan nampak lebih menarik untuk dilihat daripada biasanya. Mereka mulai menemukan semacam cita-rasa keindahan dalam kegiatannya dan terus melakukan hal itu sehingga mereka menjadi semakin ahli. Mereka adalah seniman-seniman yang pertama di muka bumi dan pada saat itulah kegiatan menggambar dan melukis mulai condong menjadi kegiatan seni.

Macam-Macam Tarian Tradisional

0

Reog adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Gerbang kota Ponorogo dihiasi oleh sosok Warok dan Gemblak, dua sosok yang ikut tampil pada saat Reog dipertunjukkan [1] . Reog adalah salah satu bukti budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang kuat

Sejarah Reog Ponorogo
Pada dasarnya ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal-usul Reog dan Warok [2], namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bra Kertabumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak rekan Cina rajanya dalam pemerintahan dan prilaku raja yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir. Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan dimana ia mengajar anak-anak muda seni bela diri, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan lagi kerajaan Majapahit kelak. Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog, yang merupakan “sindiran” kepada Raja Bra Kertabumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog.
Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai “Singa Barong”, raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat topeng singabarong yang mencapai lebih dari 50kg hanya dengan menggunakan giginya [3]. Populernya Reog Ki Ageng Kutu akhirnya menyebabkan Kertabumi mengambil tindakan dan menyerang perguruannya, pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi, dan perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran akan warok. Namun murid-murid Ki Ageng kutu tetap melanjutkannya secara diam-diam. Walaupun begitu, kesenian Reognya sendiri masih diperbolehkan untuk dipentaskan karena sudah menjadi pertunjukan populer diantara masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur baru dimana ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono Sewondono, Dewi Songgolangit, and Sri Genthayu.
Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun ditengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujanganom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan. Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan ‘kerasukan’ saat mementaskan tariannya [4] .
Hingga kini masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai pewarisan budaya yang sangat kaya. Dalam pengalamannya Seni Reog merupakan cipta kreasi manusia yang terbentuk adanya aliran kepercayaan yang ada secara turun temurun dan terjaga. Upacaranya pun menggunakan syarat-syarat yang tidak mudah bagi orang awam untuk memenuhinya tanpa adanya garis keturunan yang jelas. mereka menganut garis keturunan Parental dan hukum adat yang masih berlaku.

Pementasan Seni Reog






Reog modern biasanya dipentaskan dalam beberapa peristiwa seperti pernikahan, khitanan dan hari-hari besar Nasional. Seni Reog Ponorogo terdiri dari beberapa rangkaian 2 sampai 3 tarian pembukaan. Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam, dengan muka dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani. Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. Pada reog tradisionil, penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. Tarian ini dinamakan tari jaran kepang, yang harus dibedakan dengan seni tari lain yaitu tari kuda lumping. Tarian pembukaan lainnya jika ada biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu.
Setelah tarian pembukaan selesai, baru ditampilkan adegan inti yang isinya bergantung kondisi dimana seni reog ditampilkan. Jika berhubungan dengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan. Untuk hajatan khitanan atau sunatan, biasanya cerita pendekar,
Adegan dalam seni reog biasanya tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi. Disini selalu ada interaksi antara pemain dan dalang (biasanya pemimpin rombongan) dan kadang-kadang dengan penonton. Terkadang seorang pemain yang sedang pentas dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut kelelahan. Yang lebih dipentingkan dalam pementasan seni reog adalah memberikan kepuasan kepada penontonnya.
Adegan terakhir adalah singa barong, dimana pelaku memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak. Berat topeng ini bisa mencapai 50-60 kg. Topeng yang berat ini dibawa oleh penarinya dengan gigi. Kemampuan untuk membawakan topeng ini selain diperoleh dengan latihan yang berat, juga dipercaya diproleh dengan latihan spiritual seperti puasa dan tapa.
Kontroversi
Tarian Reog Ponorogo yang ditarikan di Malaysia dinamakan Tari Barongan[5]. Deskripsi akan tarian ini ditampilkan dalam situs resmi Kementrian Kebudayaan Kesenian dan Warisan Malaysia. Tarian ini juga menggunakan topeng dadak merak, topeng berkepala harimau yang di atasnya terdapat bulu-bulu merak, yang merupakan asli buatan pengrajin Ponorogo [6]. Permasalahan lainnya yang timbul adalah ketika ditarikan, pada reog ini ditempelkan tulisan “Malaysia” [7] dan diaku menjadi warisan Melayu dari Batu Pahat Johor dan Selangor Malaysia – dan hal ini sedang diteliti lebih lanjut oleh pemerintah Indonesia. [8]. Hal ini memicu protes dari berbagai pihak di Indonesia, termasuk seniman Reog asal Ponorogo yang berkata bahwa hak cipta kesenian Reog dicatatkan dengan nomor 026377 tertanggal 11 Februari 2004 dan diketahui langsung oleh Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia [8]. Ribuan Seniman Reog pun menggelar demo di depan Kedutaan Malaysia [9]. Berlawanan dengan foto yang dicantumkan di situs kebudayaan, dimana dadak merak dari versi Reog Ponorogo ditarikan dengan tulisan “Malaysia” [10], Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Datuk Zainal Abidin Muhammad Zain pada akhir November 2007 kemudian menyatakan bahwa “Pemerintah Malaysia tidak pernah mengklaim Reog Ponorogo sebagai budaya asli negara itu. Reog yang disebut “barongan” di Malaysia dapat dijumpai di Johor dan Selangor karena dibawa oleh rakyat Jawa yang merantau ke negeri jiran tersebut [11].